Tampilkan postingan dengan label anak indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2008

Sumpah Pemuda


Delapan puluh tahun yang lalu, berbagai kelompok pemuda dari seantero nusantara berkumpul dan berikrar. Sebuah semangat yang menjadi salah satu tonggak berdirinya republik ini. Dengan tidak memandang ras suku serta agama, mereka berembug dan menyatukan tekad untuk bersama-sama sebagai sebuah bangsa. Ketika itu kata persatuan dan kesatuan bukan hanya jargon politik, tetapi adalah sebuah tekad yang dijewantahkan secara nyata dan gamblang.

Peristiwa delapan puluh tahun yang lalu tersebut adalah kulminasi dari sebuah penderitaan panjang bangsa ini. Ketika kita adalah bangsa terjajah, bangsa kelas tiga, bangsa yang menjadi hamba sayaha. Semangat kebersamaan yang timbul oleh kesamaan penderitaan, membuncah dan menggelegak dengan tidak memandang pelbagai perbedaan. Satu semangat yang menghimpun berbagai warna berbagai rasa dalam satu kehendak.

Hari ini setelah delapan puluh tahun berlalu, semangat itu mulai pudar. Berbeda warna berbeda pula keinginan, berbeda rasa berbeda juga akan kehendak. Mungkin simpul pengikatnya mulai renggang dan talinya mulai lapuk dimakan masa. Atau dalam hati, kita menganggap semuanya adalah artefak artefak kuno yang hanya layak menjadi penghias dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Sebuah peristiwa masa lalu yang cukup hanya dikenang.

Ketika sebenarnya semangat kebersamaan menjadi yang utama dalam perjalanan membawa bangsa ini ke tujuannya, benih benih perpecahan yang bertabur. Mestikah harus ada sumpah pemuda ke dua yang mensyaratkan kita dijajah dengan setumpuk penderitaan untuk membangun kembali semangat kebersamaan. Persatuan dan kesatuan yang bukan jargon dan pemanis cakap. Mari perbaharui tekad dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Senin, 29 September 2008

Ada Apa Dengan Anak Anak Kita

Cobalah panggil seorang anak, dan pinta menyanyikan lagu lagu kesenangan atau yang dapat dinyanyikannya. Jangan terkejut jika yang kita dengar adalah Goyang Dompret, Lelaki Cadangan, SMS, atau lagu lain yang sebenarnya belum layak mereka nyanyikan.


Kemana bintang kecil, kemana burung kakak tua, kemana bangun tidur, kemana setumpuk lagulagu lain yang dulu begitu akrab dengan masa kecil kita. Lagulagu yang hari ini masih setia mengendap di minda kita.


Mereka terlalu cepat dewasa atau kita sudah terlalu tua.


Rabu, 23 Juli 2008

Hari Anak Nasional: Sebuah Refleksi

Masa yang paling indah adalah masa kanak-kanak. Dengan berbagai aktifitas bermain, seorang anak mengisi hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Tapi itu dulu.

Hari ini, seorang anak dituntut untuk berprestasi disegala bidang sebagai pelampiasan nafsu orang tuanya. Anak-anak tanpa disadari telah dieksploitasi secara terstruktur oleh orang tuanya sendiri. Beragam les harus diikuti, beragam kegiatan harus disertai, beragam lomba harus dimenangi. Seorang anak sejak dini telah didedahkan dengan iklim kompetisi yang kadang tidak sehat dan penuh intrik. Harus menang tanpa harus tahu bagaimana memaknai kemenangan. Ditanamkan sejak dini ke minda mereka bahwa kekalahan adalah sebuah aib. Belum lagi anak-anak yang dikerahkan untuk mencari uang dengan berbagai alasan yang mengiringnya.

Jadwal harian seorang anak hari ini amat lah monoton tanpa warna (mungkin juga tanpa rasa gembira). Sekolah sampai siang, dilanjutkan dengan les itu les ini hingga petang, kemudian malamnya belajar. Semuanya juga diselingi dengan nonton TV dengan anekaragam pilihan acara tak mendidik serta bermain dengan permaianan elektronik (seperti: PS, Nintendo, XBox, dan lain sebagainya) yang juga selalu disisipi dengan bumbu kekerasan, cabul, atau sikap negatif lainnya. Gambaran umum kegiatan harian seorang anak ini menggejala diseluruh lapisan masyarakat tanpa melihat status sosial keluarganya. Boleh dikatakan tidak ada sama sekali aktifitas fisik, tidak ada interaksi sosial, dan tidak ada kesempatan bergelut dengan alam. Mereka telah teralienasi dari dunianya sendiri.

Kondisi ini menciptakan kerugian yang tidak sedikit dalam proses pembentukkan watak dan karakter seorang anak. Watak dan karakter generasi 20 tahun mendatang. Sederet kerugian tak tertuliskan ketika seorang anak didedahkan dengan acara TV hari ini. Hal sama juga akibat pengaruh dijejal permainan yang tidak mendidik. Kualitas fisik yang buruk karena tak ada aktifitas yang melatih sistem motorik. Inilah kenyataannya.

Selamatkan anak-anak kita, selamatkan anak Indonesia!