Tampilkan postingan dengan label pembentukan karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembentukan karakter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2008

Pendidikan Nilai Bagi Kaum Muda

Pendidikan nilai (living values activities) bagi kaum muda hari ini menjadi penting dalam upaya memperkuat karakter kaum muda ketika mereka terdedah dengan demikian banyak permasalahan sosial. Permasalahan yang kian kompleks mendera terus dan terus sehingga kadang kaum muda kita kehilangan orientasi untuk berpijak dan melangkah.

Hari ini kita dapat saksikan semakin banyak kaum muda yang terbelit dengan pelbagai permasalahan sosial. Korban kekerasan, korban narkoba, korban pergaulan bebas dari hari ke hari semakin meningkat jumlahnya. Belum lagi masalah attitude, sikap dan perilaku, kebiasaan yang kian cenderung negatif, serta setumpuk problematika kaum muda lainya. Semua ini ditopang oleh sisi gelap dari kemajuan teknologi. Penyusupan anasir anasir melalui media massa dan dedahan terbuka terhadap kaum muda mempercepat prores dekadensi moral dan sistem nilai di kalangan kaum muda kita.

Harus ada sebuah revolusi bersama dari orang tua dan pendidik untuk merubah atau minimal menahan laju pengikisan moral ini. Pendidikan nilai semestinya ditanam sejak dini di dalam minda kaum muda. Bagaimana kita membantu agar kaum muda mampu mengeksploitasi dan mengembangkan nilai nilai kunci pribadi dan soisal kedalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya diharapkan mampu menjadi benteng dalam menghadapi pelbagai permasalahan sosial yang melingkup mereka.

Kegiatan kegiatan yang diarahkan untuk memperkuat dan memancing potensi, kreatifitas dan bakat yang sebenarnya sudah terangkum dalam Pendidikan Kepramukaan, akan menstimulasi perkembangan ketrampilan pribadi, sosial dan emosional.

Permasalahannya adakah kita menyadari tentang pentingnya pendidikan nilai ini. Jika kita masih berkotak-katik dengan sandi, morse, berkemah, baris berbaris serta setumpuk kegiatan teknisnya - yang sebenarnya hanya alat - dan melupakan makna filosofis dari aktifitas tersebut, maka jangan berharap banyak untuk mendapatkan hasil yang lebih.

Kata kuncinya adalah kembali ke Metode dan Prinsip Dasar Kepramukaan.



Minggu, 12 Oktober 2008

Metode Kepramukaan

Metode kepramukaan adalah cara belajar progresif dalam pendidikan kepramukaan untuk mencapai sasarannya, yakni pembentukan watak dan atau karakter peserta didik. Metode tersebut adalah: pertama, pengamalan kode kehormatan pramuka, kedua, belajar sambil melakukan, ketiga, sistem berkelompok, keempat, kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik, kelima, kegiatan di alam terbuka, keenam, sistem tanda kecakapan, ketujuh, sistem satuan terpisah, dan yang kedelapan, sistem among.

Kedelapan metode ini harus dilaksanakan secara menyeluruh dalam sebuah proses pembinaan terhadap peserta didik dalam pendidikan kepramukaan. Seorang pembina pramuka dituntut kepekaannya dalam menerapkan metode kepramukaan ini yang tentunya dikombinasikan dengan kegiatan inovatif serta disesuaikan dengan minat dan bakat peserta didik sehingga terciptanya sebuah materi kegiatan yang menyenangkan.

Memang bukan sebuah pekerjaan yang mudah ketika kita harus meracik berbagai bumbu dengan kaedah kaedah tertentu yang tak boleh dilanggar untuk menghasilkan sebuah kelezatan di tidak satu lidah. Namun harus patut kita pahami pula, disamping kaedah yang mengikat tersebut kita juga diberikan keleluasaan untuk berimprovisasi dalam upaya mencapai tujuan. Imajinasi hendaknya dikerahkan untuk membina peserta didik yang
notabene adalah kaum muda kita, wajah kita di masa mendatang.

Mari kita renungkan kembali bahwa bagi anggota dewasa, gerakan pramuka adalah pengabdian. Gerakan pramuka adalah wadah bagi kita untuk menunjukan kepedulian terhadap kaum muda yang membawa makna kepedulian kita terhadap bangsa. Dengan metode kepramukaan sebagai alat, jika secara konsisten kita laksanakan dan diiringi dengan tekad yang bulat, rasanya tugas mulia ini tidak terlalu susah untuk diemban.

Persoalannya: Maukah kita?

Senin, 29 September 2008

Ada Apa Dengan Anak Anak Kita

Cobalah panggil seorang anak, dan pinta menyanyikan lagu lagu kesenangan atau yang dapat dinyanyikannya. Jangan terkejut jika yang kita dengar adalah Goyang Dompret, Lelaki Cadangan, SMS, atau lagu lain yang sebenarnya belum layak mereka nyanyikan.


Kemana bintang kecil, kemana burung kakak tua, kemana bangun tidur, kemana setumpuk lagulagu lain yang dulu begitu akrab dengan masa kecil kita. Lagulagu yang hari ini masih setia mengendap di minda kita.


Mereka terlalu cepat dewasa atau kita sudah terlalu tua.


Rabu, 23 Juli 2008

Hari Anak Nasional: Sebuah Refleksi

Masa yang paling indah adalah masa kanak-kanak. Dengan berbagai aktifitas bermain, seorang anak mengisi hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Tapi itu dulu.

Hari ini, seorang anak dituntut untuk berprestasi disegala bidang sebagai pelampiasan nafsu orang tuanya. Anak-anak tanpa disadari telah dieksploitasi secara terstruktur oleh orang tuanya sendiri. Beragam les harus diikuti, beragam kegiatan harus disertai, beragam lomba harus dimenangi. Seorang anak sejak dini telah didedahkan dengan iklim kompetisi yang kadang tidak sehat dan penuh intrik. Harus menang tanpa harus tahu bagaimana memaknai kemenangan. Ditanamkan sejak dini ke minda mereka bahwa kekalahan adalah sebuah aib. Belum lagi anak-anak yang dikerahkan untuk mencari uang dengan berbagai alasan yang mengiringnya.

Jadwal harian seorang anak hari ini amat lah monoton tanpa warna (mungkin juga tanpa rasa gembira). Sekolah sampai siang, dilanjutkan dengan les itu les ini hingga petang, kemudian malamnya belajar. Semuanya juga diselingi dengan nonton TV dengan anekaragam pilihan acara tak mendidik serta bermain dengan permaianan elektronik (seperti: PS, Nintendo, XBox, dan lain sebagainya) yang juga selalu disisipi dengan bumbu kekerasan, cabul, atau sikap negatif lainnya. Gambaran umum kegiatan harian seorang anak ini menggejala diseluruh lapisan masyarakat tanpa melihat status sosial keluarganya. Boleh dikatakan tidak ada sama sekali aktifitas fisik, tidak ada interaksi sosial, dan tidak ada kesempatan bergelut dengan alam. Mereka telah teralienasi dari dunianya sendiri.

Kondisi ini menciptakan kerugian yang tidak sedikit dalam proses pembentukkan watak dan karakter seorang anak. Watak dan karakter generasi 20 tahun mendatang. Sederet kerugian tak tertuliskan ketika seorang anak didedahkan dengan acara TV hari ini. Hal sama juga akibat pengaruh dijejal permainan yang tidak mendidik. Kualitas fisik yang buruk karena tak ada aktifitas yang melatih sistem motorik. Inilah kenyataannya.

Selamatkan anak-anak kita, selamatkan anak Indonesia!