Tampilkan postingan dengan label pramuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pramuka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Oktober 2008

Pesan Baden Powell

Scouting is not an abstruse or difficult science; rather it is a jolly game if you take it in the right light. At the same time it is educative, and (like Mercy) it is apt to benefit him that give as well as him that receive.

Kepanduan bukanlah suatu ilmu yang sukar atau mendalam, lebih baik diartikan sebagai permainan yang menarik, bila anda tempatkan pada kedudukan yang benar. Sekaligus permainan itu bersifat pendidikan, dan (seperti Mercy = kemurahan hati) ia condong memberi manfaat bagi yang memberi maupun yang menerima.

Selasa, 14 Oktober 2008

Menyongsong Muscab 2008

Tidak lama lagi Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Bengkalis akan menyelenggarakan Musyawarah Cabang VIII Gerakan Pramuka Bengkalis. Gawean lima tahunan ini merupakan ajang pengambilan keputusan tertinggi di tingkat cabang yang akan menentukan warna Gerakan Pramuka di Kabupaten Bengkalis lima tahun ke depan. Ada tiga materi utama yang akan diputuskan dalam musyawarah ini, yakni, pertama, penilaian terhadap hasil kerja pengurus masa bakti 2003-2008, kedua, rencana kerja tahun 2008-2013, dan ketiga, pengurus untuk masa bakti 2008-2013. Ketiga putusan ini akan menentukan gerak langkah dan cara pandang gerakan ini ke depan.

Berkaca pada proses rekrutmen andalan cabang di masa lalu yang sangat kental berorientasi pada jabatan yang disandang oleh seseorang, hendaknya orientasi ke depan lebih dititikberatkan pada kemampuan dan keinginan untuk mengabdi - bukan keinginan untuk menjadi andalan atau pengurus. Memang patut kita sadari bahwa sistem kaderisasi anggota dewasa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya membuat kita miskin terhadap pilihan-pilihan. Sumber daya manusia yang terbatas akhirnya membuat kita berputar dari satu ke satu figur yang itu itu juga dan ketika menoleh ke lain hanya rasa pesimis yang hinggap.

Kondisi tersebut adalah salah satu permasalahan yang dihadapi oleh peserta musyawarah dalam merancang dan merumuskan putusan khususnya dalam menyusun kepengurusan kwartir cabang. Namun ada hal yang lebih rumit lagi, yakni menyusun rencana kerja untuk lima tahun. Kondisi kekinian gerakan pramuka sarat dengan pelbagai permasalahan di berbagai aspek. Dedikasi anggota dewasa, minat peserta didik, materi pendidikan yang
out of date, sumber daya yang terbatas, adalah sedikit contoh dari permasalahan yang dihadapi gerakan pramuka hari ini. Ini harus dihadapi dan dilalui dengan sebuah rencana kerja yang merangkum semua permasalahan dan diupayakan untuk dieliminir.

Dengan sarana dan prasarana yang relatif lebih baik dari masa lalu, hendaknya ke depan persoalan mendasar tersebut tidaklah menjadi halangan lagi, malah dapat dijadikan nilai tambah dalam upaya peningkatan mutu pembinaan peserta didik. Tinggal lagi bagaimana kita merancang sebuah rencana kerja nyata yang disesuaikan dengan kondisi kita secara keseluruhan baik kekuatan, kelemahan, peluang maupun tantangan. Inilah yang mesti dirumuskan terlebih dahulu oleh peserta musyawarah sebelum memutuskan rencana kerja lima tahun tersebut.

Harapan terkandung semoga musyawarah ini bukan hanya sebuah kerja rutin lima tahunan, tetapi adalah ajang cerdas untuk menentukan wajah gerakan pramuka di daerah ini di masa menadatang.

Minggu, 12 Oktober 2008

Metode Kepramukaan

Metode kepramukaan adalah cara belajar progresif dalam pendidikan kepramukaan untuk mencapai sasarannya, yakni pembentukan watak dan atau karakter peserta didik. Metode tersebut adalah: pertama, pengamalan kode kehormatan pramuka, kedua, belajar sambil melakukan, ketiga, sistem berkelompok, keempat, kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik, kelima, kegiatan di alam terbuka, keenam, sistem tanda kecakapan, ketujuh, sistem satuan terpisah, dan yang kedelapan, sistem among.

Kedelapan metode ini harus dilaksanakan secara menyeluruh dalam sebuah proses pembinaan terhadap peserta didik dalam pendidikan kepramukaan. Seorang pembina pramuka dituntut kepekaannya dalam menerapkan metode kepramukaan ini yang tentunya dikombinasikan dengan kegiatan inovatif serta disesuaikan dengan minat dan bakat peserta didik sehingga terciptanya sebuah materi kegiatan yang menyenangkan.

Memang bukan sebuah pekerjaan yang mudah ketika kita harus meracik berbagai bumbu dengan kaedah kaedah tertentu yang tak boleh dilanggar untuk menghasilkan sebuah kelezatan di tidak satu lidah. Namun harus patut kita pahami pula, disamping kaedah yang mengikat tersebut kita juga diberikan keleluasaan untuk berimprovisasi dalam upaya mencapai tujuan. Imajinasi hendaknya dikerahkan untuk membina peserta didik yang
notabene adalah kaum muda kita, wajah kita di masa mendatang.

Mari kita renungkan kembali bahwa bagi anggota dewasa, gerakan pramuka adalah pengabdian. Gerakan pramuka adalah wadah bagi kita untuk menunjukan kepedulian terhadap kaum muda yang membawa makna kepedulian kita terhadap bangsa. Dengan metode kepramukaan sebagai alat, jika secara konsisten kita laksanakan dan diiringi dengan tekad yang bulat, rasanya tugas mulia ini tidak terlalu susah untuk diemban.

Persoalannya: Maukah kita?

Kamis, 09 Oktober 2008

PDMK

Ketika dengan penuh semangat yang membara mengikuti kursus mahir dasar, para calon Pembina demikian akrab dengan istilah prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan (PDMK). Dalam berbagai kesempatan selama kursus selalu ditanamkan bahwa yang membedakan Gerakan Pramuka dengan organisasi sejenis lainnya adalah PDMK ini. Seorang Pembina diharuskan untuk menghayati dan menerapkan prinsip dasar dan metode ini dalam proses pembinaan terhadap peserta didik di gugus depan.

Dalam pelaksanaannya, prinsip dasar dan metode kepramukaan itu harus diterapkan secara menyeluruh dan tidak sepenggal-sepenggal. Hakekatnya, bila hanya sebagian yang dilaksanakan maka ianya bukan lagi bagian dari pendidikan kepramukaan.


Sebagai seorang Pembina, mari kita renungkan sejenak terhadap pengejewantahan prinsip dasar dalam proses pembinaan yang kita lakukan. Bagaimana implementasi terhadap peserta didik tentang prinsip-prinsip: iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya; peduli terhadap diri pribadinya; dan taat kepada Kode Kehormatan Pramuka. Karena sebenarnya proses pembentukan watak (karakter) yang merupakan tujuan utama dari pendidikan kepramukaan dimulai dari penanaman prinsip-prinsip tersebut.


Belum lagi ketika dihadapkan dengan pertanyaan: sejauh mana metode kepramukaan digunakan dalam proses pembinaan?


Hari ini, kenyataan dilapangan memperlihatkan ketidakpedulian kita terhadap prinsip dasar dan metode kepramukaan tersebut. Latihan rutin mingguan hanya diisi dengan kegiatan-kegiatan teknis kepramukaan yang itupun tidak selesai. Di Perindukan Siaga, latihan dipimpin oleh Pembantu Pembina yang masih berstatus peserta didik golongan Penegak atau Pandega, demikian juga di Pasukan Penggalang. Di Ambalan Penegak, latihan dikelola sendiri oleh Penegak tanpa sentuhan dan bimbingan Pembina, apalagi di Racana Pandega. Satuan terpisah jauh panggang dari api.


Kita yang abai dengan diri sendiri. Rasanya tak salah juga ketika masyarakat menganggap pramuka itu identik dengan nyanyi-nyanyi, tepuk tangan, dan berkemah. Sampai kapan?

Kamis, 14 Agustus 2008

Dirgahayu Gerakan Pramuka

Hari ini 47 tahun yang lalu, Presiden RI, Ir. Soekarno dalam Apel Besar yang diikuti hampir 10.000 anggota Gerakan Pramuka memperkenalkan Gerakan Pramuka yang kemudian dilanjutkan dengan pawai dan defile. Sebelumnya dihari yang sama, di Istana Negara berlangsung acara penganugerahan Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang didahului dengan pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.

Cikal bakal Pandu bermula di Mafeking, Afrika Selatan, di mana Baden Powell bertugas disana sebagai tentara Inggris dengan pangkat Kolonel. Ketika Perang Boer (1899-1902) terjadi, Baden-Powell mempertahankan Mafeking dari kepungan Boers selama 217 hari. Jumlah tentara Boers yang mengepung kota Mafeking mencapai 8.000 ribu orang, sedangkan Baden Powell hanya memiliki prajurit seperdelapan dari jumlah pengepungnya. Dia membentuk Korp Kadet Mafeking untuk membantu menyokong anggota tentera. Korp tersebut dianggotai sepenuhnya oleh sukarelawan remaja lelaki yang bertugas sebagai kurir. Baden-Powell melatih pemuda-pemuda tersebut dan mereka membantu mempertahankan Mafeking sampai dibebaskan pada tanggal 16 Mei 1900. Setiap anggota Korp Kadet menerima lencana, gabungan titik kompas dan kepala lembing. Logo ini akhirnya menjadi fleur-de-lis, yang diambil gerakan kepanduan sedunia sebagai lambangnya.

Berangkat dari kesuksesan di Mafeking, untuk menguji sebagian idenya, Baden-Powell telah mengumpulkan 22 orang budak lelaki dari latar belakang sosial yang berbeda dan mengadakan perkemahan selama seminggu, bermula pada tanggal 29 Juli 1907, di Pulau Brownsea di Poole Harbour, Dorset, Inggris. Inilah perkemahan pertama di dunia.

Keberadaan Gerakan Pramuka di awalnya berdirinya memang mengandung semangat de-BadenPowell-lisasi. Semangat untuk mengeliminir pengaruh Baden Powell dalam pendidikan kepanduan. Semangat yang tendensius ini amat kental dengan nuansa dinamika politik saat itu. Namun dengan bergeraknya jarum waktu, beragam perubahan terjadi, rezim berganti, semangat tersebut meredup dan tak pernah terdengar lagi.

Darimanapun datangnya ide itu, jika membawa pesan kebaikan, ianya harus didukung bersama. Sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia, semangat Baden Powell akan selalu hadir dan menghiasi setiap gerak langkah Gerakan Pramuka. Semangat untuk mendidik kaum muda menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta tinggi mental - moral - budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya, tinggi kecerdasan dan keterampilannya, kuat dan sehat fisiknya, sehingga menjadi angota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelanggarakan pembangunan bangsa dan negara.

Diusia yang ke 47 ini, Gerakan Pramuka telah berbuat dan terus akan. Mari kita perbaharui tekad untuk mengabdi. Mari kita perbaharui Janji kita.


Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat;
menepati Dasa Darma.

Satyaku Kudarmakan Darmaku Kubaktikan.

Selasa, 12 Agustus 2008

Diklat BP III

Peregangan



Sendiri


Jumat, 08 Agustus 2008

The Scout Promise

On my honour I promise that I will do my best:
To do my duty to God, and my Country,
To help other people at all times,
and To obey the Scout Law.

Selasa, 05 Agustus 2008

Menyongsong Hari Pramuka ke 47

Empat puluh tujuh tahun silam, berangkat dari pemikiran ingin menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang ada, didirikanlah Gerakan Pramuka sebagai satu satunya wadah pendidikan kepanduan di Indonesia yang ditetapkan dengan sebuah Keputusan Presiden. Semangat yang mengiringi pendirian gerakan ini adalah untuk mewujudkan sebuah wadah yang mendidik kaum muda Indonesia agar menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur.

Dalam usianya yang hampir setengah abad, Gerakan Pramuka telah memberikan warna tersendiri dalam perjalanan bangsa ini membentuk karakter kaum mudanya. Gerakan Pramuka telah memberikan alternatif pilihan bagi kaum muda untuk mengaktualisasikan minat dan keinginan, serta menjadi wahana penyaluran nafsu liar kaum muda untuk bercumbu dengan alam, bergelut dengan bermacam ketrampilan, bercengkerama bersama rekan sebaya mencari solusi permasalahan kaum muda.

Tantangan yang dihadapi kaum muda hari ini semakin berat dan kompleks. Beragam permasalahan yang menyangkut sikap dan moral (attitude) berkembang dan terus berkembang menggerogoti sendi sendi kehidupan kaum muda. Berbagai godaan yang datang dari berbagai arah terus membelai, membujuk, merayu dan menjerumuskan. Tidak memandang strata sosial, kaya miskin, pintar bodoh, semua disapu dengan dedahan yang menggoda. Kemajuan teknologi (informasi khususnya) membawa sistem nilai yang berbeda ke kehidupan kaum muda dengan bermacam dampaknya. Hanya kaum muda yang memiliki karakter kuat yang mampu menahan anasir anasir penggoda ini.

Disinilah dituntut peran Gerakan Pramuka dengan segala aktifitasnya untuk memperkuat karakter kaum muda hari ini, khususnya karakter seorang Pramuka. Berpandu pada Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, upaya upaya penguatan kapasitas peserta didik harus dilakukan secara berkesinambungan dan mengemaskinikan kegiatan untuk menjadi lebih menarik dan menyenangkan.

Revitalisasi Gerakan Pramuka adalah upaya untuk kembali ke Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan.

Dirgahayu Gerakan Pramuka!

Senin, 14 Juli 2008

Menuntut Kepekaan Anggota Dewasa

Hari ini, seorang pembina dituntut untuk mampu mengemaskinikan kegiatan kepramukaan sehingga menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Seorang pembina juga dituntut untuk peka dengan perubahan, baik itu perubahan yang terjadi pada jiwa peserta didik maupun perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Kemajuan teknologi membawa dampak yang cukup besar terhadap prilaku dan gaya hidup kaum muda hari ini. Kemudahan-kemudahan yang timbul akibat kemajuan teknologi membuat sebagian dari kita malas, terlena dan enggan melakukan aktivitas fisik. Hal yang sama melanda kaum muda kita.

Ketika minat untuk menjadi seorang Pramuka sudah mulai kendur dan kita masih menganggap pendidikan kepramukaan merupakan alternatif solusi dari setumpuk permasalahan kaum muda hari ini, hendaknya inovasi kegiatan kepramukaan harus terus dilakukan secara berkesinambungan. Semuanya diarahkan kepada menarik kembali minat kaum muda menyertai Gerakan Pramuka.

Ditengah masyarakat dan kelompok yang awam dengan Gerakan Pramuka (pembina juga ada!), gerakan ini selalu diidentikkan dengan tepuk tangan, bernyanyi, berkemah semata. Kita tak dapat menyalahkan mereka. Mari kita renungkan kembali mengapa anggapan seperti itu hadir dan cukup melekat pada gerakan ini.

Mari kita mulai berbenah dan menata kembali program kegiatan yang akan diberikan kepada peserta didik. Inilah revitalisasi.