Selasa, 14 Oktober 2008
Menyongsong Muscab 2008
Berkaca pada proses rekrutmen andalan cabang di masa lalu yang sangat kental berorientasi pada jabatan yang disandang oleh seseorang, hendaknya orientasi ke depan lebih dititikberatkan pada kemampuan dan keinginan untuk mengabdi - bukan keinginan untuk menjadi andalan atau pengurus. Memang patut kita sadari bahwa sistem kaderisasi anggota dewasa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya membuat kita miskin terhadap pilihan-pilihan. Sumber daya manusia yang terbatas akhirnya membuat kita berputar dari satu ke satu figur yang itu itu juga dan ketika menoleh ke lain hanya rasa pesimis yang hinggap.
Kondisi tersebut adalah salah satu permasalahan yang dihadapi oleh peserta musyawarah dalam merancang dan merumuskan putusan khususnya dalam menyusun kepengurusan kwartir cabang. Namun ada hal yang lebih rumit lagi, yakni menyusun rencana kerja untuk lima tahun. Kondisi kekinian gerakan pramuka sarat dengan pelbagai permasalahan di berbagai aspek. Dedikasi anggota dewasa, minat peserta didik, materi pendidikan yang out of date, sumber daya yang terbatas, adalah sedikit contoh dari permasalahan yang dihadapi gerakan pramuka hari ini. Ini harus dihadapi dan dilalui dengan sebuah rencana kerja yang merangkum semua permasalahan dan diupayakan untuk dieliminir.
Dengan sarana dan prasarana yang relatif lebih baik dari masa lalu, hendaknya ke depan persoalan mendasar tersebut tidaklah menjadi halangan lagi, malah dapat dijadikan nilai tambah dalam upaya peningkatan mutu pembinaan peserta didik. Tinggal lagi bagaimana kita merancang sebuah rencana kerja nyata yang disesuaikan dengan kondisi kita secara keseluruhan baik kekuatan, kelemahan, peluang maupun tantangan. Inilah yang mesti dirumuskan terlebih dahulu oleh peserta musyawarah sebelum memutuskan rencana kerja lima tahun tersebut.
Harapan terkandung semoga musyawarah ini bukan hanya sebuah kerja rutin lima tahunan, tetapi adalah ajang cerdas untuk menentukan wajah gerakan pramuka di daerah ini di masa menadatang.
Minggu, 12 Oktober 2008
Metode Kepramukaan
Metode kepramukaan adalah cara belajar progresif dalam pendidikan kepramukaan untuk mencapai sasarannya, yakni pembentukan watak dan atau karakter peserta didik. Metode tersebut adalah: pertama, pengamalan kode kehormatan pramuka, kedua, belajar sambil melakukan, ketiga, sistem berkelompok, keempat, kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik, kelima, kegiatan di alam terbuka, keenam, sistem tanda kecakapan, ketujuh, sistem satuan terpisah, dan yang kedelapan, sistem among.Kedelapan metode ini harus dilaksanakan secara menyeluruh dalam sebuah proses pembinaan terhadap peserta didik dalam pendidikan kepramukaan. Seorang pembina pramuka dituntut kepekaannya dalam menerapkan metode kepramukaan ini yang tentunya dikombinasikan dengan kegiatan inovatif serta disesuaikan dengan minat dan bakat peserta didik sehingga terciptanya sebuah materi kegiatan yang menyenangkan.
Memang bukan sebuah pekerjaan yang mudah ketika kita harus meracik berbagai bumbu dengan kaedah kaedah tertentu yang tak boleh dilanggar untuk menghasilkan sebuah kelezatan di tidak satu lidah. Namun harus patut kita pahami pula, disamping kaedah yang mengikat tersebut kita juga diberikan keleluasaan untuk berimprovisasi dalam upaya mencapai tujuan. Imajinasi hendaknya dikerahkan untuk membina peserta didik yang notabene adalah kaum muda kita, wajah kita di masa mendatang.
Mari kita renungkan kembali bahwa bagi anggota dewasa, gerakan pramuka adalah pengabdian. Gerakan pramuka adalah wadah bagi kita untuk menunjukan kepedulian terhadap kaum muda yang membawa makna kepedulian kita terhadap bangsa. Dengan metode kepramukaan sebagai alat, jika secara konsisten kita laksanakan dan diiringi dengan tekad yang bulat, rasanya tugas mulia ini tidak terlalu susah untuk diemban.
Persoalannya: Maukah kita?
Kamis, 09 Oktober 2008
PDMK
Ketika dengan penuh semangat yang membara mengikuti kursus mahir dasar, para calon Pembina demikian akrab dengan istilah prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan (PDMK). Dalam berbagai kesempatan selama kursus selalu ditanamkan bahwa yang membedakan Gerakan Pramuka dengan organisasi sejenis lainnya adalah PDMK ini. Seorang Pembina diharuskan untuk menghayati dan menerapkan prinsip dasar dan metode ini dalam proses pembinaan terhadap peserta didik di gugus depan.Dalam pelaksanaannya, prinsip dasar dan metode kepramukaan itu harus diterapkan secara menyeluruh dan tidak sepenggal-sepenggal. Hakekatnya, bila hanya sebagian yang dilaksanakan maka ianya bukan lagi bagian dari pendidikan kepramukaan.
Sebagai seorang Pembina, mari kita renungkan sejenak terhadap pengejewantahan prinsip dasar dalam proses pembinaan yang kita lakukan. Bagaimana implementasi terhadap peserta didik tentang prinsip-prinsip: iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya; peduli terhadap diri pribadinya; dan taat kepada Kode Kehormatan Pramuka. Karena sebenarnya proses pembentukan watak (karakter) yang merupakan tujuan utama dari pendidikan kepramukaan dimulai dari penanaman prinsip-prinsip tersebut.
Belum lagi ketika dihadapkan dengan pertanyaan: sejauh mana metode kepramukaan digunakan dalam proses pembinaan?
Hari ini, kenyataan dilapangan memperlihatkan ketidakpedulian kita terhadap prinsip dasar dan metode kepramukaan tersebut. Latihan rutin mingguan hanya diisi dengan kegiatan-kegiatan teknis kepramukaan yang itupun tidak selesai. Di Perindukan Siaga, latihan dipimpin oleh Pembantu Pembina yang masih berstatus peserta didik golongan Penegak atau Pandega, demikian juga di Pasukan Penggalang. Di Ambalan Penegak, latihan dikelola sendiri oleh Penegak tanpa sentuhan dan bimbingan Pembina, apalagi di Racana Pandega. Satuan terpisah jauh panggang dari api.
Kita yang abai dengan diri sendiri. Rasanya tak salah juga ketika masyarakat menganggap pramuka itu identik dengan nyanyi-nyanyi, tepuk tangan, dan berkemah. Sampai kapan?
Selasa, 30 September 2008
Selamat Idul Fitri 1429H
Senin, 29 September 2008
Ada Apa Dengan Anak Anak Kita
Cobalah panggil seorang anak, dan pinta menyanyikan lagu lagu kesenangan atau yang dapat dinyanyikannya. Jangan terkejut jika yang kita dengar adalah Goyang Dompret, Lelaki Cadangan, SMS, atau lagu lain yang sebenarnya belum layak mereka nyanyikan.
Kemana bintang kecil, kemana burung kakak tua, kemana bangun tidur, kemana setumpuk lagulagu lain yang dulu begitu akrab dengan masa kecil kita. Lagulagu yang hari ini masih setia mengendap di minda kita.
Mereka terlalu cepat dewasa atau kita sudah terlalu tua.
